Info Terbaru 2022

Tolak Peluru

Tolak Peluru
Tolak Peluru

Tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga atletik. Atlet tolak peluru melemparkan bola besi yang berat sejauh mungkin.

Berat peluru:
ü  Untuk senior putra = 7.257 kg
ü  Untuk senior putri = 4 kg
ü  Untuk yunior putra = 5 kg
ü  Untuk yunior putri = 3 kg

Teknik-teknik yang perlu dipelajari dalam tolak peluru antara lain:

A.   Teknik Memegang Peluru

Cara memegang peluru, yaitu:

  • Peluru diletakkan pada telapak tangan bab atas
  • Jari-jari tangan direnggangkan atau dibuka, jari manis, jari tengah, dan jari telunjuk dipergunakan untuk menekan dan memegang peluru bab belakang. Sedangkan jari kelingking dan ibu jari dipergunakan untuk memegang atau menahan peluru bab samping biar tidak jatuh atau tergelincir.
  • Setelah peluru tersebut dipegang dengan baik, kemudian letakkan pada pundak dan    menmpel (melekat) di leher. Siku diangkat ke samping, sedikit serong ke depan.
  • Pada waktu memegang dan meletakkan peluru pada bahu, usahakan biar seluruh tubuh  dan tangan dalam keadaan lemas (rileks). Tangan dari lengan yang lain membantu    menjaga keseimbangan.

B.   Teknik Sikap Badan pada Waktu akan Menolak

Terdapat 2 teknik perilaku tubuh pada waktu akan  menolak, yaitu:

 1. Gaya Ortodok (Menyamping)

Berdiri tegak menyamping kearah tolakan, kedua kaki dibuka lebar (kangkang), kaki kiri lurus ke depan, kaki kanan dibengkokkan ke depan, sedikit serong ke samping kanan, berat tubuh berada pada kaki kanan, dan tubuh agak condong ke samping kanan. Tangan kanan memegang peluru pada pundak (pundak), tangan kiri dibengkokkan, berada di depan sedikit agak serong ke atas lemas. Tangan kiri berfungsi untuk membantu dan menjaga keseimbangan. Pandangan diarahkan kea rah target (tolakan).

2. Gaya O’brien (Membelakangi)

Hal yang membedakan antara gaya ortodoks dan gaya O’Brien yaitu perilaku awal. Pada gaya ortodoks perilaku tubuh menyamping, sedangkan pada gaya O’Brien membelakangi arah tolakan.


C.   Cara Mengambil Awalan (Ancang-Ancang)

Cara menyamping (ortodoks)

Bila memakai gaya ortodoks, perilaku tubuh menyamping arah tolakan mulai dari perilaku permulaan hingga dengan bergerak ke depan untuk menolakkan peluru.

·         Cara membelakangi lawan (O’Brien)

Bila memakai gaya O’Brien, perilaku tubuh membelakangi arah tolakan mulai dari perilaku permulaan hingga dengan bergerak ke depan untuk menolakkan peluru.

Gaya tolak peluru dengan membelakangi itu disebut juga gaya O’Brien, alasannya yaitu orang yang pertama kali mempergunakan dan sekaligus memperkenalkan gaya tersebut berjulukan Parry O’Brien. Gaya tersebut dipergunakan pada ketika penyelenggaraan Olimpiade Helsinky pada tahun 1952.



D.   Teknik Setelah Gerakan Akhir Menolak

Teknik sesudah gerakan final menolak, yaitu:
  • Setelah peluru lepas dari tangan, secepatnya kaki belakang diturunkan atau mendarat menempati daerah kaki depan/kaki tumpu dengan lutut agak dibengkokkan.
  • Selanjutnya kaki tumpu diangkat ke belakang lururs dan lemas untuk membantu menjaga keseimbangan.
  • Badan condong ke samping kiri depan, dagu diangkat, pandangan ke arah jatuhnya peluru.
  • Tangan kanan dibengkokkan berada di depan sedikit agak ke bawah badan, tangan atau lengan kiri lemas lurus ke belakang untuk membantu menjaga keseimbangan.


E.    Hal-Hal yang Harus Dihindari dalam Tolak Peluru Awalan Membelakan

Hal-hal yang harus dihindari sebagai berikut:
1.  Sikap posisi awal tidak seimbang, kaki kanan melaksanakan gerakan lompatan
2.  Tidak menarik kaki kanan cukup jauh ke bawah badan.
3.  Mendarat dengan kaki kanan menghadap ke belakang.
4.  Gerakan kaki terlalu ke samping kiri.
5.  Terlalu cepat menggerakkan badan.

F.    Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Tolak Peluru Awalan Membelakan

Hal-hal yang harus diperhatikan sebagai berikut:
1.  Pelihara kaki selalu rendah dan bertahan kuat-kuat.
2.  Lakukan gerakan kaki kiri mendorong ke belakang
3.  Usahakan pinggang kiri dan pundak menghadap ke belakang jauh.
4.  Putarlah kaki kanan ke dalam selama meluncur.
5.  Usahakan lengan kiri dalam posisi tertutup.

G.   Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Teknik Tolak Peluru

      Ketentuan diskualifikasi/kegagalan akseptor tolak peluru :
·         Menyentuh balok batas sebelah atas - Menyentuh tanah di luar lingkaran
·         Keluar masuk bulat dari muka garis tengah
·         Dipangil selama 3 menit belum menolak
·         Peluru di taruh di belakang kepala
·         Peluru jatuh di luar sektor bulat
·         Menginjak garis lingkar lapangan
·         Keluar lewat depan garis lingkar
·         Keluar bulat tidak dengan berjalan tenang
·         Peserta gagal melempar sudah 3 kali lemparan

Beberapa hal yang disarankan :
Bawalah tungkai kiri merendah Dapatkan keseimbangan gerak dari kedia tungkai, dengan tungkai kiri memimpin di belekang Menjaga biar bab atas tubuh tetap rileks ketika bab bawah bergerak Hasilkan rangkaian gerak yang cepat dan jauh peda tungkai kanan Putar kaki kanan ke arah dalam sewaktu melaksanakan luncuran Pertahankan pinggul kiri dan pundak menghadap ke belakang selama mungkin Bawalah tangan kiri dalam sebuah posisi mendekati tubuh Tahanlah sekuat-kuatnya dengan tungkai kiri

Beberapa hal yang harus dihindari :
Tidak mempunyai keseimbanagn dalam perilaku permulaan Melakukan lompatan ketika meluncur dengan kaki kanan Mengangkat tubuh tinggi ketika melaksanakan luncuran Tidak cukup jauh menarik kaki kanan di bawah tubuh Mendarat dengan kaki kanan menghadap ke belakang Menggerakkan tungkai kiri terlalu banyak ke samping Terlalu awal membuka tubuh Mendarat dengan tubuh menghadap ke samping atau ke depan

H.   Peralatan
Alat yang di gunakan : - Rol Meter - Bendera Kecil - Kapur / Tali Rafia - Peluru a. Untuk senior putra = 7.257 kg b. Untuk senior putri = 4 kg c. Untuk yunior putra = 5 kg d. Untuk yunior putri = 3 kg - Obrient : gaya membelakangi arah tolakan - Ortodox : gaya menyamping

I.    Lapangan Tolak Peluru


Konstruksi : 

  • Lingkaran tolak peluru harus dibentuk dari besi, baja atau materi lain yang cocok yang dilengkungkan, bab atasnya harus rata dengan permukaan tanah luarnya. Bagian dalam bulat tolak dibentuk dari semen , aspal atau materi lain yang padat tetapi tidak licin. Permukaan dalam bulat tolak harus datar antara 20 mm hingga 6 mm lebih rendah dari bibir atas bulat besi.
  • Garis lebar 5 cm harus dibentuk di atas bulat besi menjulur sepanjang 0.75 m pada kanan kiri bulat garis ini dibentuk dari cat atau kayu.
  • Diameter bab dalam bulat tolak yaitu 2,135 m. Tebal besi bulat tolak minimum 6 mm dan harus di cat putih. 
  • Balok penahan dibentuk dari kayu atau materi lain yang sesuai dalam sebuah busur/lengkungan sehingga tepi dalam berhimpit dengan tepi dalam bulat tolak, sehingga lebih kokoh. 
  • Lebar balok 11,2-30 cm, panjangnya 1,21-1,23 m di dalam, tebal 9,8-10,2 cm.
Advertisement

Iklan Sidebar